Kebudayaan Lembah Indhus

Istilah kebudayaan atau culture dapat didefinisikan sebagai keseluruhan sistem gagasan., tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milk diri manusia dengan belajar. Dari definisi tersebut terdapat unsur-unsur kebudayaan universal yang disusun oleh sejumlah pakar antropologi menyimpulkan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia. Koentjaraningrat menegaskan tujuh unsur kebudayaan, yaitu; bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dan kesenian.

Peradaban Lembah Indhus menurut para arkeolog pernah berlangsung di lembah Sungai Indhus sejak sekitar 3.000 sampai dengan 500 S. M, sering disebut zaman Chalcolithichum. Peninggalan di berbagai kota ini telah mengundang perhatian ahli-ahli barang kuno, saat India masih dalam kekuasaan Pemerintahan Inggris mulai dirintis penggalian kota yang terpendam tersebut. Kerjasama para arkeolog itu dipimpin oleh ahli purbakala Inggris Sir John Marshall dibantu oleh R. D. Bannerji. Hasil kerja penggalian kota dan membaca peninggalan peradaban ini diharapkan dapat menambah membuka tabir Zaman purba sejarah India. Konsentrasi penggalian bekas kota di tepi sungai Indhusk, antara lain: Harappa, Mohenjo-daro dan Chanhu-daro. Mereka mengatakan bahwa kebudayaan itu hasil kerja bangsa berbahasa Dravida yang telah hidup menetap mengikuti gramma (aturan desa).

Dari pengalian sejak 1925 di bekas kota Mohenjo-daro (RC. Majumdar dkk, menyebutnya Mound of the dead, kini terletak didaratan rendah Larkana), diketemukan antara lain:

  1. Meterai-meterai berhuruf, diduga untuk sarana menghindarkan bahaya. Namun para pakar sejarah dan epograf belum dapat membaca seal tersebut.
  2. Bangunan bekas rumah yang sudah memiliki pintu, ukiran batu bata yang sama dan diketemukan bangunan bekas pengairan yang sudah tertata rapi, sistem drainage kota. Mereka sudah menggunakan alat-alat dari batu dan tembaga. Hal ini memperkuat bahwa warga masyarakat sudah mengenal dan menggunakan api.
  3. Perhiasan barang mewah menunjukkan keindahan berupa kalung, gelang, anting-anting terbuat dari emas dan perak. Alat-alat rumah tangga, permainan anak-anak sudah dihiasi dengan seni gambar dan seni ukir yang indah ( perhatikan sisa reruntuhan kota Mohenjo-daro, patung pendeta di Mohenjo-daro dan Harappa, dan Dewi Alam). Mereka telah mengenal sistem cetak bivalve atau a cire perdue. Pakar sejarah berkebangsaan India R. C .Majumdar, dkk (1967) memuji daerah Mohenjo-daro ini sangat subur.
  4. Mereka sudah mengenal binatang peliharaan seperti: gajah, unta, kerbau dan anjing. Menurut pakar prasejarah anjing diyakini sebagai binatang pertama kali diternakan oleh manusia. Dari hasil penggalian lapisan terbawah dikemukakan barang-barang yang kualitasnya sama dengan lapisan diatasnya.


Dari penggalian di Harappa (daerah Punyab, sekitar 600 km utara kota Mohenjo-daro) diketemukan, antara lain:
  1. Arca-arca yang memiliki nilai seni berkualitas tinggi. Di antaranya menunjukan seorang pemuka agama yang nampak kegemukan. Pemuka agama ini nampak sedang bersamadi dan kedua mata mengarah ke satu titik. Penemuan lain berupa patung torco dalam posisi sedang menari, bahan terbuat dari tanah kapur.
  2. Ukiran-ukiran kecil tebuat dari terracotta dengan berbagai bentuk, misalnya bentuk wanita telanjang dengan dada terbuka. 
  3. Penghuni kota Harappa telah mengenal memasak, terbukti adanya peninggalan alat dapur terbuat dari tanah liat, perikuk-periuk dan pembakaran batu bata. Pembakaran batu bata dimaksudkan agar cukup keras, kuat dan baik. Namun keistimewaannya mereka memperhatikan ukuran yang sama.
  4. Arca-arca yang melukiskan manusia, lembu menyerang harimau, lembu bertanduk satu dan binatang angan-angan yang disucikan. Arca-arca ini menunjukkan tingginya teknologi peradaban masyarakat Harappa.

Sir John Marshall sebagai pemimpin penggalian benda-benda purbakala membuat analisa bahwa yang diketemukan di bekas kota Harappa dan Mohenjo-dero, ternyata juga sama dengan yang diketemukan di berbagai kota di sepanjang sungai Indhus, termasuk di Tanjo-daro. Sedangkan RC Majumdar, dkk (1967:16) memberikan gambaran tentang kota baik mengenai bangunan, ukuran dan kelengkapan rumah hunian.

Dari pernyataan RC Majumdar tersebut menunjukkan betapa tingginya peradaban kota, selain sudah terencana dengan baik terbukti: bangunan perumahan yang besar, bahan batu bata, sistem kamar, bahkan memiliki sumur, kamar mandi, saluran pengeringan dan ventilasi (jendela).


Dari penemuan tersebut dapat diulas lebih spesifik lagi, antara lain;
  1. Bangunan perkotaan sudah terancang dengan rapi, bentuk “bulat” (sudah terencana dan tertata rapi), dengan ciri kota: jalan lurus, rumah menghadap ke gang/ jalan, dan memperhatikan kebersihan kota. Unsur kota ( pemerintahan, tanah lapang, pusat ibadah, pasar dan penjara). Sudah terpenuhi disejumlah kota ditepi sungai Indhus. Prof. Dr. Sartono kartodirdjo dalam bukunya “Masyarakat Kuno dan Kelompok-kelompok Sosial” melengkapi pendapat kota itu dengan keterangannya kota Harrapa dan Mohenjo-daro dibangun berdasarkan tata kota yang mirip dengan kota Athena.
  2. Bangsa Dravida sudah hidup menetap mengikuti pemerintahan aturan desa (gramma), bercorak kesukuan, paternalistik dengan mata pencaharian utama bertani.
  3. Sudah mengenal kepercayaan agama ibuan, berpendapat tinggi dan setaraf dengan peradaban di Mesopotamia dan Mesir.
  4. Peradaban bangsa Dravida disebut berperadaban pra-Hindu. Terbukti saat itu sudah dikenal atau sudah disebut-sebut tentang Syiwa Lingga, Syiwa Pemburu, Syiwa Pasopati, dan wanita mirip Dewi Parwati dalam agama Hindu.


Sekitar 500 S. M diduga kota hasil peradaban bangsa Dravida runtuh. Tentang runtuh atau hilangnya kebudayaan Lembah Indhus dapat diajukan beberapa teori, antara lain:
  1. Di daerah Punyab diketemukan air berkadar garam cukup tinggi, yang diduga sebagai penyebab runtuhnya bangunan pemukiman. Dengan terjadinya erosi menyebabkan warga bangsa Dravida ‘meninggalkan’ peradaban di lembah Indhus.
  2. Ahli geografi N. Daldjoeni menduga telah terjadi penebangan liar di lereng Himalaya, berakibat terjadi erosi dan berhasil menimbun berbagi kota di lembah Indhus. Akibat selanjutnya pemukiman serta peradabannya musnah.
  3. Sudah Indhus berulang kali kali banjir, berakibat sejumlah kota di tepi sungai Indhus terendam dan kemudian tertimbun lumpur.
  4. Dari penggalian bangunan perkotaan yang berlapis tujuh di tempat yang sama serta dikemukakan sejumlah kerangka jenazah yang berserakan dengan berbagai ukuran, menunjukkan pernah terjadi pembantaian. Diduga bahwa penyebabnya adalah masuknya bahasa Sanskerta (sering disebut Bangsa Indo Arya) pada saat zaman Weda (1500-500 S. M. yang diyakini umat Hindu baru berlangsung penulisan Caturweda). Kota yang berbenteng dan memiliki persediaan air (di bagian Barat kota) itu ditinggalkan orang Dravida untuk pindah ke daerah Dekkan. Sementara itu wanita-wanita Dravida ada yang diambil istri oleh orang Indo Arya dan dari perkawinan itu menurunkan orang India.

Sumber Bacaan