Sejarah Muhammadiyah di Maluku Utara

Selamat datang di ReadyyGo, pada kesempatan yang baik ini, ReadyyGo akan sedikit membahas mengenai “Sejarah Muhammadiyah di Maluku Utara” & tanpa berlama-lama, mari kita simak ulasan berikut ini. Selamat membaca!!!
Apabila membicarakan kebangkitan nasional di Maluku Utara tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan tentang masuknya Muhammadiyah di daerah tersebut.
Sejarah Muhammadiyah di Maluku Utara
Perlu diketahui Muhammadiyah, yang didirikan oleh K. H. Ahmad Dachlan pada tahun 1912 di Yogyakarta, merupakan salah satu organisasi Islam modernis terpenting di Indonesia yang telah mengukir sejarahnya dengan baik.

Khususnya di Maluku Utara, organisasi Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi pelopor era kesadaran nasional/kebangkitan nasional & cukup diminati rakyat.

Pada tanggal 17 September 1928, Haji Amal & murid-muridnya membentuk Muhammadiyah “Groep” Galela. Ketua berada di tangan Haji Muhammadiyah Amal sendiri, untuk sekertarisnya Haji B. S. Rauf, bendahara Daniel Lasiji & pembantu-pembantunya: Abdullah Joge, M. S. Sawai, Haji Abdul Jalil & beberapa tokoh lokal lainnya.

Karena di Maluku Utara ketika itu belum ada Konsul Muhammadiyah, untuk penamaan Pimpinan Wilayah, maka Groep (semacam anak cabang) Galela, langsung ditangani oleh Pimpinan Pusat/Hoofd Bestuur di Yogyakarta.

Pada tahun 1933, Muhammadiyah masuk ke Ternate, Pimpinan awal Muhammadiyah di Ternate ini terdiri dari Arifin Patty, Abdullah Petrana, Ibrahim Tolangara, & Luth Haji Ibrahim.

Pada tahun 1938, L. A. Nasibu juga ikut memperkuat pimpinannya. Pada tahun itu pula, terbentuk secara berturut-turut pimpinan Muhammadiyah di Weda oleh dokter Chasan Bosoirie, Tidore & Morotai.

Di distrik terakhir, pimpinannya di tangan Haji Umar Jamaa, Rajab Paradin & Musa, seorang aktivis Muhammadiyah asal Gorontalo. Di samping itu di Tobelo Muhammadiyah sudah berdiri dari tahun 1934 & pimpinannya berada ditangan Haji Abdullah Tjan beserta murid-muridnya.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah berdiri sejak tahun 1936 di Ternate, menyusul di Tobelo, Galela, & Weda pada tahun 1938.
Pada tempat-tempat itu juga lahir organisasi kepanduan Hizbul Wathan (HW).

Perlu diketahui titik berat dari tugas Muhammadiyah saat itu adalah melakukan kegiatan dahwah, disamping pendidikan. Muhammadiyah Tobelo & Galela mendatangkan ustadz untuk madrasahnya langsung dari Padang Panjang & Padang, semua itu melalui Pimpinan Pusat di Yogyakarta, sedangkan Ternate mendatangkannya dari Makassar.

Pimpinan pusat di Yogyakarta juga menugaskan Syamsuddin Yusuf untuk Tobelo & Bahrun Sultany untuk Galela. Di Ternate BAPMAN dipimpin oleh Ustadz Jafar. Itu karena para pengurusnya telibat dalam kegiatan politik, termasuk ustadz Jafar sendiri, pengendalian sekolah BAPMAN hampir seluruhnya dipegang Arifin Patty, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Kenari Tinggi & merupakan seorang “ambtenaar” (pegawai negeri) yang diharamkan ikut partai politik oleh Pemerintah Belanda.

Sumber Bacaan;
M. Adnan Amal, 2010, Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Jakarta: KPG

Demikianlah ulasan yang pada kesempatan yang baik ini, dapat ReadyyGo ulas dengan singkat, semoga bermanfaat serta menambah wawasan anda mengenai sejarah saat itu. Cukup sekian & semoga anda sukses!!!

0 Response to "Sejarah Muhammadiyah di Maluku Utara"

Post a Comment

Tata Tertib Berkomentar di Blog ReadyyGo :
1. Kalimat atau Kata-kata Tidak Mengandung Unsur (SARA).
2. Berkomentar Sesuai dengan Artikel Postingan.
3. Dilarang Keras Promosi Apapun Bentuk & Jenisnya.
4. Link Aktif atau Mati, Tidak Dipublikasikan & Dianggap SPAM.
5. Ingat Semua Komentar Dimoderasi.
6. Anda dapat request artikel lewat kolom komentar ini.

Terimakasih Atas Pengertiannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel